Kata “krisis”, yang dalam berbagai bahasa asing umumnya juga menyebutkan sama, saat ini dapat diyakini sedang trendy di seantero dunia. Padahal “krisis” sudah merupakan bagian dari proses kehidupan sehari-hari umat manusia. Namun secara tiba-tiba hal yang satu ini menjadi lebih istimewa karena “tersembul” ke permukaan akibat terjadi krisis keuangan (financial) di Amerika Serikat yang berimbas ke seluruh dunia.

Krisis yang dengan cepat mengglobal tersebut juga telah melecut nyali begitu banyak orang, terlebih bagi mereka yang sedang duduk di pemerintahan dan kalangan pengusaha serta perbankan. Sebagai efek domino, korban berikut adalah kalangan buruh karena nasibnya sangat tergantung kepada kondisi perusahaan, sumber nafkah dimana mereka bekerja. Bahwa jumlah mayoritas penduduk yang selebihnya akan mendapat giliran menjadi tambah susah, kiranya tidak perlu disangsikan lagi. (more…)

Masalah konflik cukup menarik bagi mereka yang berjiwa dinamis, optimis ataupun yang berkeinginan untuk maju. Orang pesimis biasanya ingin menghindari adanya suatu konflik. Untuk golongan yang pertama, konflik bagaikan alat pemicu dalam memperkaya wawasan serta mematangkan posisi yang telah dicapai. Sedangkan golongan kedua yang umumnya kurang suka mengambil resiko, menganggap konflik sebagai batu sandungan yang mengganggu kenyamanan.

Ruang lingkup konflik bisa individual, kelompok, golongan, etnis hingga bangsa dan dunia. Penyebab konflik sangat beragam mulai dari yang masalah pribadi, adu pengaruh, karena ideologi, keyakinan, etnis, perebutan hak, persaingan usaha, sengketa wilayah dll. Dalam organisasi baik profesi maupun non profesi sangat sering terjadi konflik seperti misalnya di kalangan advokat, jurnalis, perburuhan, organisasi masa (ormas), organisasi sosial nirlaba dsb. (more…)

Urusan disiplin adalah hal sangat mendasar, manusiawi, alami dan melekat pula pada setiap insan. Semua makhluk di dunia tidak terlepas dari disiplin. Alam semesta termasuk flora dan fauna juga mengenal disiplin. Faktor disiplin sangat mewarnai kehidupan di seantero jagat raya ini. Bangaimana jadinya dunia kita bila disiplin alam sudah berubah? Misalnya bagaimana bila matahari terbit tidak dari Timur? Atau bagaimana seandainya es di kutub mencair semua?
Tuhan telah mengatur disiplin dunia dengan regionalisasi serta spesifikasi yang tertib. Di belahan dunia bagian Barat dikenal adanya 4 musim dalam setahun yaitu : winter, spring, summer, autumn. Di wilayah tropis terdapat musim penghujan dan musim kemarau. Ada pula kondisi musiman seperti musim tanam dan musim panen untuk jenis tumbuhan/ tanaman tertentu. Ada lagi musim penangkaran (reproduksi) binatang tertentu. Namun walau hal serupa dapat dibudidayakan oleh manusia, tetap harus dilakukan secara disiplin agar dapat berhasil. Tidak dapat disangkal bahwa manusia harus belajar dari alam. (more…)

Sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa. Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah asset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.

Rasa malu pada hakekatnya tidak terlepas dari kriteria adat istiadat, kebiasaan dan budi luhur yang dimiliki oleh bangsa berbudaya. Sebagai bukti adalah adat kebiasaan orang Jepang yang lebih baik melakukan hara-kiri dari pada harus menanggung malu. Paruh kedua September 2008 menteri pertanian Jepang mengundurkan diri akibat permasalahan beras yang tercemar pestisida dan jamur. Selang beberapa hari kemudian menteri transportasi juga mundur akibat serangkaian pernyataannya yang membuat gusar berbagai pihak. Di negara lain yang dengan sistim demokrasi sudah mapan, juga sering terjadi kasus pengunduran diri pejabat negara. (more…)

Dapat diyakini bahwa segenap unsur bangsa kita dimanapun berada sudah paham mengenai makna dari pada kata ANTRI. Ada yang menyebut ANTRE atau bahkan ANDRI, namun yang dimaksud adalah sama yaitu berurutan atau membentuk baris berbanjar ke belakang. Ditilik dari maknanya, kata ANTRI boleh jadi berasal dari bahasa asing (utamanya Inggris) yaitu ENTRY yang artinya masuk. Bagi orang Barat, antri sudah merupakan bagian dari budaya mereka yaitu sebagai suatu kebiasaan yang sudah melekat pada diri masing-masing individu. Niat untuk serba antri sudah tidak diragukan lagi. Mereka sadar bahwa untuk memenuhi sesuatu kepentingan secara bersama di tempat yang sama maka siapapun yang berada paling depan akan mendapat kesempatan atau giliran pertama. Mereka yang datang kemudian otomatis akan menempatkan diri pada posisi di belakangnya. Begitu seterusnya. Tidak terkesan ada niat/keinginan mereka untuk minta didahulukan ataupun memaksa untuk mendahului orang lain. Prinsipnya adalah first come first service.

Apakah ini ada hubungannya dengan demokrasi? Mungkin juga, mengingat bahwa kebiasaan tersebut sudah mereka lakukan ratusan tahun sejalan dengan prinsip demokrasi yang dianut, diantaranya adalah menghargai hak-hak orang lain. (more…)

Kata “komunikasi” saat ini sudah bukan lagi semacam “barang mewah”. Hampir setiap individu sudah tahu apa itu “komunikasi”, yang kata aslinya adalah berasal dari bahasa asing (utamanya Inggris) yaitu “communication”. Hingga kira-kira tahun 1970-an pemahaman mengenai pentingnya komunikasi di Indonesia masih terbatas pada kalangan tertentu termasuk golongan terpelajar sekalipun. Masyarakat lokal memaknai komunikasi masih sebatas tradisi dan kebiasaan dalam bentuk pesan, baik yang bersifat resmi maupun dalam pergaulan biasa. Belum ada jaminan bahwa pesan tersebut akan sampai seutuhnya kepada sasaran yang ingin dituju, apalagi untuk memperoleh feedback yang maksimal. Akibatnya banyak informasi penting yang sering berbuntut salah tafsir, salah persepsi, salah interpretasi hingga akhirnya dapat menimbulkan salah paham/pengertian. Alasan klasik sering muncul berupa berbagai pernyataan yang cenderung defensive seperti : belum tahu, belum ada pemberitahuan, belum ada perintah, instruksi kurang jelas dsb.

Pada pemerintahan suatu negara yang cenderung “keras” dan “tertutup”, komunikasi nyaris hanya satu arah yaitu dari atas ke bawah. Kalangan bawah hanya menerima pesan dan dibebani kewajiban untuk melayani serta melaksanakan perintah. Padahal sejatinya makna komunikasi harus dua arah dalam arti bahwa kedua pihak adalah sama-sama sebagai subyek dan masing-masing berperan sama.
Dalam berbagai catatan sejarah, faktor komunikasi sangat mewarnai dan menentukan bagi tumbuh berkembangnya organisasi pemerintah, kehidupan komunitas maupun kesinambungan organisasi termasuk partai politik. Fakta sejarah membuktikan bahwa setiap terjadi suatu pembelotan ataupun pemberontakan di suatu tempat dimuka bumi ini, banyak terbukti sebagai akibat dari adanya kebuntuan dalam komunikasi yang kemudian berdampak kepada kebuntuan politik. (more…)

Disadari atau tidak, umumnya setiap orang mempunyai dorongan semangat untuk berbuat, memiliki atau mencapai sesuatu. Dorongan semacam itu disebut obsesi. Pada umumnya obsesi bersifat sangat pribadi. Namun melalui ilmu kepolisian atau psikologi, masih  mungkin untuk dapat mengetahui obsesi yang diduga melatar belakangi sikap seseorang.

Obsesi umumya timbul karena dirinya termotivasi oleh sesuatu hal yang memengaruhi, yaitu karena seseorang atau orang lain ataupun karena lingkungan. Bagi mereka yang datang dari keluarga atau lingkungan militer misalnya, bisa terobsesi menjadi tentara. Dari lingkungan guru, seseorang ingin menjadi guru. Dari kalangan politisi, kerabat atau generasi berikutnya ada kemungkinan juga ingin terjun di bidang politik.

Dalam keadaan normal, orang akan terobsesi untuk berbuat baik pada lingkungan yang baik pula. Demikian juga sebaliknya, bagi mereka yang berada pada lingkungan kurang baik

Yang mirip dengan pengertian obsesi adalah cita-cita. Biasanya setiap orang yang ingin maju sudah mempunyai cita-cita sejak masih muda. Keinginan tersebut bisa terobsesi oleh kehebatan seseorang dari kalangan keluarga, leluhur, orang-orang sukses di bidang tertentu atau nama-nama besar sebagai idola. Misalnya karena terobsesi oleh seorang jenderal yang hebat, maka si A bercita-cita untuk menjadi jenderal pula. Sebagai upaya untuk mewujudkan cita-citanya itu maka ia lalu masuk tentara. Karena leluhurnya adalah orang hebat dan terhormat pada jamannya, maka si B bercita-cita untuk menggapai kedudukan yang seperti itu. Karena tertarik dengan penampilan seorang pilot dan melalui profesi tersebut memungkinkan untuk bisa menjelajah dunia, maka si C bercita-cita untuk menjadi seorang pilot. Karena mengidolakan ayahnya sebagai wartawan yang hebat, maka ia bercita-cita menjadi seorang wartawan. (more…)

Jakarta, Juni 2008

Setiap tindakan yang dilakukan baik oleh perorangan, kelompok ataupun lembaga tentu mempunyai motivasi. Jarang sekali suatu motivasi dinyatakan secara terbuka. Walau terselubung, motivasi dapat diketahui dari apa yang tersirat dalam suatu keputusan atau tindakan. Namun kita perlu berhati-hati dalam memahami pengertian motivasi yang jauh berbeda dengan motif. Motivasi atau motivation berasal dari kata motive yang berarti alasan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motif adalah pola atau ragam. Misalnya : motif batik, motif ukiran Jepara/Bali, motif klasik, motif kembang-kembang dsb.
Orang yang ahli memotivasi terhadap orang lain disebut motivator. Pasca reformasi (1998), di Indonesia banyak bermunculan motivator dengan gaya khas masing-masing dan cenderung komersial. Umumnya mereka mengambil tema sosial/kepribadian dan ekonomi/keuangan. Yang cukup menonjol diantaranya adalah Gede Prama, Andre Wongso, Mario Teguh, Tung Desem Waringin, James Gwee. Di Amerika Serikat (AS), motivator paling terkenal adalah Anthony (Tony) Robins yang diaku sebagai guru oleh Tung Desem Waringin. Banyak tokoh politik dan pejabat negara AS pernah dimotivasi oleh Tony Robins. Para Ustad, Da’i dan Pendeta adalah juga motivator. (more…)

Kebanyakan orang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Departemen Luar Negeri (Deplu) adalah seperti layaknya “doing business as usual”. Namun di kalangan Deplu sendiri diakui bahwa yang aneh-aneh bisa terjadi. Maka tidak aneh bila pada suatu waktu karena kebijakannya itu Deplu diplesetkan menjadi “departemen lucu”. Terakhir yang dinilai lucu adalah pengangkatan Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) yang cakupannya dimuat dalam Peraturan Presiden (perpres) No.20 dan No.21 Tahun 2008.
Meski perpres berdasarkan payung hukum UUD 1945 maupun UU No.37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri, namun masih menyisakan beberapa kejanggalan seperti berikut.

Kurang efisien
Ditilik dari formasi organisasi Deplu sekarang, diadakannya Wakil Menlu dirasakan kurang efisien. Di Deplu sudah ada sepuluh (10) Eselon I yang cukup lengkap terdiri dari tujuh (7) Direktur Jenderal (Dirjen), satu Kepala Badan, satu Sekretaris Jenderal dan satu Inspektur Jenderal. Adapun Dirjen dan Kepala Badan dimaksud yaitu : Dirjen Asia Pasifik dan Afrika, Dirjen Amerika dan Eropa, Dirjen Kerjasama ASEAN, Dirjen Multilateral, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional, Dirjen Protokol dan Konsuler serta Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan.
Secara teknis semua fungsi dan tugas pokok Deplu telah terbagi habis untuk ditangani oleh masing-masing Eselon I termasuk Dirjen Kawasan dan Regional serta Dirjen Multilateral. Melalui mekanisme dan program serta rencana strategis (RENSTRA) yang jelas, semua organ Deplu otomatis akan bergerak secara profesional dengan sasaran yang jelas pula. Dengan demikian maka jabatan Wakil Menlu sudah tidak diperlukan lagi. (more…)

Jakarta, 16 Juni 2008

Demonstrasi Setiap saat pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM, langsung disambut dengan demonstrasi di Jakarta dan kota-kota lainnya. Tujuannya adalah menuntut agar pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM tersebut. Sebelumnya juga sering terjadi demonstrasi lokal, seperti pernah dilakukan oleh korban lumpur Lapindo atau karyawan PT Dirgantara Indonesia. Sedang demonstrasi dalam skala lebih kecil banyak terjadi di berbagai tempat dan dilakukan oleh mahasiswa, karyawan perusahaan, buruh pabrik, atau masyarakat lainnya. Pelaku demonstrasi lazim disebut demonstrator (Ing), namun yang lebih terkenal adalah dengan sebutan demonstrant (Bld).

Sudah lama masyarakat awam mengenal kata “demonstrasi” (sering disingkat “demo”) atau “unjuk rasa”. Demonstrasi dilakukan sebagai protes atas berlakunya kebijaksanaan tertentu. Namun tidak tertutup kemungkinan “dimanfaatkan” oleh pihak lain, yang para pelaku sendiri mungkin kurang menyadari hal itu. Atau mungkin juga “ditunggangi” oleh kekuatan politik tertentu. Sasaran demonstrasi selain ditujukan terhadap pemerintah, kadang-kadang adalah perusahaan, lembaga, organisasi atau kelompok tertentu. Arti lain dari demonstrasi yaitu melakukan suatu peragaan atau “memperlihatkan contoh penggunaan”. Biasanya demonstrasi yang demikian itu dilakukan untuk promosi suatu produk, yaitu dengan memeragakan cara kerja atau cara memakai produk dimaksud. Misalnya demonstrasi peralatan/barang elektronik, alat-alat kedokteran, produk otomotif, peralatan rumah tangga dsb. Demonstrasi juga ditampilkan sehubungan dengan keahlian/ ketrampilan tertentu, sekaligus sebagai atraksi bagaimana seseorang betul-betul ahli dan terampil di bidangnya. Misalnya demonstrasi pencak silat, membatik, ketangkasan, alat musik, memasak, menembak tepat, dsb.

Di negara demokrasi, demonstrasi adalah sesuatu yang wajar. Demonstrasi dalam skala besar banyak terjadi di negara-negara sedang berkembang (developing countries) atau negara yang masih dalam proses demokratisasi. Kejadiannya sering berlangsung agak lama, kadang-kadang dibarengi dengan aksi kekerasan. Menjadikan demonstrasi sebagai suatu bentuk/cara untuk memaksakan kehendak, bisa merubah “unjuk rasa” menjadi “unjuk kekuatan” (show of force). Padahal maksud sebenarnya dari demonstrasi adalah murni sebagai ekspresi untuk menyampaikan aspirasi.

Demonstrasi yang baik dilakukan dengan tertib dan elegan, sehingga dimungkinkan mendapatkan simpati publik. Adapun penyampaian aspirasi yang lebih baik lagi yaitu melalui dialog. Pada saat demonstrasi kurang terkendali, bisa berlanjut menjadi anarkis. Berhubung tindakannya yang anarkis itu, maka oleh petugas keamanan dianggap kebablasan dan mengganggu ketertiban. Akibatnya terjadi bentrokan antara demonstran dengan aparat kekuasaan. Akhirnya demonstrasi menjadi kontra produktif (counter productive), sehingga tujuan pokok menjadi kurang tercapai. Lain halnya apabila demonstrasi sudah begitu meluas ke seluruh negeri seperti halnya terjadi di Philipina dengan “people’s power” tahun 1986 dan di Indonesia dengan “reformasi” pada Mei 1998. Saat itu keadaan negara menjadi chaos (kacau) dan keselamatan bangsa terancam. Kondisi di dua tempat dan berbeda waktu tersebut berujung pada tumbangnya kekuasaan diktator Ferdinand Marcos di Philipina serta lengsernya Suharto sebagai penguasa Orde Baru. [5]

« Previous PageNext Page »